Feeds:
Pos
Komentar

abu-mujahidah_bentuk-bentuk-ikut-serta-merayakan-hari-raya-orang-kafirHukum ikut serta merayakan hari raya orang kafir telah gamblang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah.Allah ta’ala berfirman:

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﺸْﻬَﺪُﻭﻥَ ﺍﻟﺰُّﻭﺭَ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻐْﻮِ ﻣَﺮُّﻭﺍ ﻛِﺮَﺍﻣًﺎ

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kebohongan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72)

Para ulama tabi’in menjelaskan makna kalimat “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kebohongan…” adalah tidak menyaksikan atau menghadiri hari raya orang Musyrik, ini adalah tafsiran Muhammad bin Sirin, Mujahid, Rabi’ bin Anas, Ikrimah dan lainnya.

Ketika telah jelas hukum menghadiri atau ikut serta dalam perayaan hari raya orang kafir, maka melakukan berbagai bentuk yang menyerupai keikut sertaan dalam perayaan mereka pun dilarang. Di antaranya adalah: Lanjut Baca »

ALEPPO SURIAH

ALEPPO SURIAH

Ummat Islam adalah bersaudara. Baik ia orang Arab maupun bukan. Baik ia berkulit hitam maupun berkulit putih. Di mana pun ia tinggal. Di zaman kapan pun ia hidup. Selama beriman kepada Allah S.W.T. maka ia adalah saudara kita. Dukanya adalah duka kita. Sedihnya adalah kesedihan kita. Sengsaranya adalah kesengsaraan kita. Karena sesama muslim seperti satu tubuh yang jika anggota badan ada yang sakit maka seluruh tubuh merasakannya.

Saat ini, kita mendengar dan melihat berita pembantaian yang menimpa umat Islam di berbagai negara. Khususnya umat Islam di Rohingya dan Aleppo Suriah. Pada kesempatan yang mudah-mudahan diberkahi Allah S.W.T. ini, mari sejenak kita sedikit merasakan kondisi saudara-saudara kita yang sedang ditindas oleh rezim pengikut Iblis. Lanjut Baca »

realita-kemunafikan-di-zaman-nabi

MIMBAR HADITS

Pengingkaran kepada Alloh S.W.T. dan Rosul-Nya S.A.W. dengan tidak beriman kepadanya merupakan perbuatan kufur. Pelakunya jelas tidak dikatakan sebagai orang yang beriman. Sebab status mukmin hanya diberikan bagi mereka yang mengimani Alloh S.W.T. dan Rosul-Nya serta rukun iman lainnya. Jika ada seorang hamba keadaannya demikian hingga meninggal dunia, maka ia bukanlah seorang mukmin dan ia calon penduduk Neraka. Adapun seorang hamba yang mengimani Alloh S.W.T. dan Rosul-Nya S.A.W. serta rukun iman lainnya, maka ia adalah seorang mukmin yang hakiki.

Adapula yang secara lisan mengaku telah beriman, namun di dalam hatinya tidak beriman. Sikap ini tentu bertolak belakang antara lisan dan perbuatannya dengan apa yang ia yakini. Dalam Islam, kondisi seperti itu disebut dengan istilah nifak dan pelakunya disebut orang munafik. Dalam beberapa literatur akidah Islam disebutkan bahwa nifak adalah menampakan keislaman dan kebaikan serta menyembunyikan kekafiran dan keburukan. Lanjut Baca »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Seorang ayah dan ibu harus selalu mendidik putra putrinya untuk bertakwa kepada Alloh Ta’ala di manapun berada. Di masjid, di rumah, di sekolah, di pasar atau di mana saja. Karena ketakwaan adalah satu-satunya sumber kebahagiaan hakiki bagi manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Bertakwa artinya melaksanakan segala perintah Alloh Ta’ala semaksimal mungkin seperti wudhu, sholat, dzikir, silaturahim, bersedekah dan lainnya. juga meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh Ta’ala seperti tidak berzina, tidak mencuri, tidak mabuk-mabukan, tidak memalak orang, tidak memukul kawan dan lainnya.

Agar anak-anak bertakwa kepada Alloh Ta’ala, orang tua harus mengajarkan ilmu syariat islam sebanyak-banyaknya. Tata cara wudhu, sholat, sedekah dan lainnya. Namun, selain tata cara ibadah ini yang harus diajarkan, ada hal lain yang paling penting untuk diajarkan kepada anak-anak, yaitu mengajarkan anak tentang Alloh Ta’ala.

Seorang muslim harus mengetahui siapa Alloh Ta’ala, di mana Dia, dan apa saja sifat-sifat-Nya. Alloh Ta’ala adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur seluruh Alloh Ta’ala, hal ini dikabarkan oleh Alloh Ta’ala dalam surat al-Fatihah dalam kata “Robbul’alamin”, dan Alloh Ta’ala berada di atas ‘Arsy, yang dikabarkan langsung olehnya dalam surat Thoha ayat lima “Alloh Ta’ala yang Maha Pengasih berada di atas Arsy”. Lanjut Baca »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Seseorang di antara kalian tidak beriman sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadis ini menerangkan tentang pentingnya saling mencintai sesama muslim dan satu nasihat agar seorang muslim memiliki sifat itsar atau mendahulukan kepentingan mukmin yang lain dalam masalah keduniaan.

Dalam kitab Ikmalul Mu’allim Syarh Shohih Muslim, al-Qodi ‘Iyad menerangkan bahwa makna hadis ini adalah “Tidak sempurna iman seorang mukmin sehingga ia mencintai kaum mukminin yang lain dengan tidak menyakiti mereka, tidak menghina mereka, mencintai kebaikan yang mereka dapatkan, dan menghilangkan keburukan yang mereka alami.  Lanjut Baca »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Alloh Ta’ala Maha Mendengar setiap kata yang terucap dan melihat setiap tubuh yang bergerak. Semua diketahui oleh Alloh Ta’ala dengan pasti, karena Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Gerak gerik, tutur kata, dan besitan hati semuanya tidak luput dari pantauan Alloh Ta’ala yang mengawasi. Alloh Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Alloh dan Dia yang Maha mendengar serta Maha Melihat.” (QS. asy-Syuro [42]: 11)

Ucapan lisan, amalan anggota badan, dan hati seseorang senantiasa diperhatikan oleh Alloh Ta’ala untuk dinilai. Setelah diadakan penilaian, maka Alloh Ta’ala  akan memberikan balasan kebaikan untuk mereka yang bernilai baik dan keburukan untuk mereka yang bernilai buruk. Lanjut Baca »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Ukhuwwah Islamiyah adalah persaudaraan yang dibangun di atas Islam. Ukhuwwah seperti ini sangat penting dimiliki oleh setiap muslim dan muslimah. Jika sesama muslim saling mencinta karena Alloh Ta’ala, maka akan timbul sikap saling tolong menolong dan saling memberi manfaat. Bukan hanya di dunia akan tetapi sikap ini pun akan dibawa ke akhirat ketika setiap muslim berusaha memberikan syafaat untuk yang lainnya.

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzholiminya dan tidak boleh menyerahkan kepada musuhnya. Siapa saja yang membantu kebutuhan seorang muslim, maka Alloh akan membantu kebutuhannya, siapa saja yang melapangkan kesukaran seorang muslim, maka Alloh akan melapangkan kesukarannya pada hari kiamat. Siapa saja yang menutup aib seorang muslim, maka Alloh akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhori) Lanjut Baca »