Feeds:
Pos
Komentar

Banyak sekali peristiwa sejarah yang dilupakan kaum muslimin sendiri di bulan Sya’ban. Semoga dengan mengingat peristiwa sejarah ini mampu membangkitkan semangat kita dalam beribadah kepada Allah. Di antara peristiwa besar yang pernah terjadi di bulan Sya’ban di antaranya:

1. Sebagian ulama tarikh mennyebutkan bahwa pada Sya’ban tahun ke-2 hijriah, Allah Kabulkan keinginan Nabi tentang perpindahan kiblat dari Masjid al Aqsa di Palestina menuju Masjid al Haram di Makah. Inilah syariat pertama yang di naskh/diamandemen di dalam Islam oleh Allah subhanahu wata’ala.

2. Pada Sya’ban tahun ke-2 H disyariatkan adzan di dalam Islam dan Bilal bin Robbah resmi diangkat menjadi muadzin Rosulullah di Madinah. Jadi, hampir 14 abad adzan berkumandang di muka bumi dan tidak akan terhenti hingga hari kiamat insyaallah.

3. Pada Sya’ban tahun ke-2 H, Allah turunkan syariat zakat dan puasa Romadhan. Akan tetapi di bulan Ramadhan tahun ke-2 H kaum muslimin menghadapi perang badar sehingga Nabi memerintahkan para sahabatnnya untuk berbuka puasa. Lanjut Baca »

Ditulis oleh: Ustadz Dr. Adian Husaini, M.A.

Kitab al-Ahkam al-Sulthaniyyah ditulis Imam Mawardi (w. 450 H/sekitar 1072 M), yang nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi Asy-Syafii. Kitab ini menunjukkan ketinggian peradaban Islam yang dibangun diatas dasar ilmu-ilmu Islam (ulumuddin). Di zaman ketika Eropa masih dalam zaman kegelapan (sekitar 500-1500 M), kaum Muslim telah menghasilkan karya-karya yang gemilang dalam berbagai bidang keilmuan, termasuk dalam ilmu politik, dengan terbitnya buku karya Imam al-Mawardi ini.

Dan ini tidaklah mengherankan, sebab, Islam bukan hanya wujud dalam bentuk ajaran-ajaran spiritual keagamaan, tetapi Islam juga wujud dalam bentuk peradaban yang mencakup berbagai sistem kehidupan, baik sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Islam juga satu-satunya agama yang memberikan keteladanan yang tinggi dalam bidang politik dan pemerintahan. Islam bukan hanya membangun aspek duniawi dalam bentuk peradaban materi, tetapi tujuan Islam yang juga diamanahkan kepada para penguasanya adalah membangun manusia-manusia Muslim yang unggul. Lanjut Baca »

Saat ini, umat Islam dihadapkan pada virus-virus yang mengancam kekebalan dan kemurnian akidah mereka. Virus-virus ter-sebut tidak hanya menyerang kalangan ma-syarakat awam, tetapi juga telah menimpa kalangan terpelajar di kampus-kampus baik umum maupun Islam.

Di antara sekian banyak virus yang sudah menggerogoti tubuh sebagian kaum muslimin adalah virus Liberalisme. Jika keberadaan virus ini dibiarkan, maka tentu akan membahayakan umat Islam. Karena virus ini dapat mengancam seorang Muslim keluar dari keislamannya, dan cukuplah lepasnya keislaman dari seorang Muslim sebagai bahaya besar yang ditimbulkan oleh virus Liberalisme.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui dan memahami dengan baik tentang hakikat virus Liberalisme. Sehingga kita dan saudara-saudara kita dapat terhindar dari virus yang berbahaya ini. Sudah saatnya, semua kita ikut andil dalam membendung virus Liberalisme ini.  Lanjut Baca »

Definisi Mu’tazilah

Secara bahasa Mu’tazilah artinya menyingkir atau memisahkan diri. Secara istilah Mu’tazilah adalah sebuah sekte sempalan yang mempunyai lima pokok keyakinan (al-Ushul al-Khomsa), menyakini dirinya kelompok moderat diantara dua kelompok ekstrim yaitu Murji’ah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya dan khowarij yang menganggap pelaku dosa besar telah kafir.

Awal Kelahiran dan Penamaan Mu’tazilah

Pada suatu hari seseorang masuk ke majelis Hasan Bashri, dia bertanya, “Wahai Imamudin, kini telah muncul di zaman kita satu kelompok yang mengkafirkan orang-orang yang berdosa besar. Dosa besar adalah kekufuran yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Mereka adalah kaum Wa’idiyyah (Khowarij). Selain itu adapula sekelompok orang yang beranggapan bahwa dosa besar tidak membahayakan keimanan sedikitpun, bahkan amal perbuatan dalam pandangan mereka tidaklah termasuk di antara rukun iman. Kemaksiatan tidaklah merusak keimanan sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat sedikitpun terhadap kekufuran. Mereka adalah Murji’ahnya umat ini, maka bagaimanakah pendapatmu tentang hal ini?

Imam Hasan al-Bashripun tercengang memikirkan hal itu dan sebelum beliau menjawab, berkatalah Washil bin Atho’, “Aku tidaklah berpendapat bahwa orang yang berdosa itu seorang mukmin yang mutlak atau seorang kafir yang mutlak, akan tetapi dia di antara satu posisi di antara dua posisi (al-manzilah baina manzilatain), bukan mukmin dan bukan kafir. Lanjut Baca »

Definisi Murji’ah

Murji’ah berasal dari kata al-irja’ yang secara bahasa berarti mengakhirkan, penangguhan atau mengharap. Sedangkan secara istilah atau terminologi para ulama berbeda pendapat tentang ketepatan dalam mengartikan kalimat Murji’ah,

Al Bagdadi  dalam Syarh Usul ‘Itiqad, beliau berkata : “Mereka dikatakan Murji’ah dikarenakan mereka mengakhirkan amal dari pada iman.” Sedangkan Al-fayaumy  dalam kitab Al Misbahul Al Munir berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak memberi hukuman kepada seseorang di dunia akan tetapi mereka mengakhirkan hukuman tersebut hingga datangnya hari kiamat.

Kemudian Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Irja’ adalah mengakhirkan hukuman kepada pelaku dosa besar sampai datangnya hari kiamat yang mana dia tidak akan diberi balasan atau hukuman apapun ketika masih berada di dunia. Lanjut Baca »

Imam Syafi’i rohimahulloh berkata bahwa “Seandainya seseorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati dirinya, kecuali menjadi orang dungu”.

Istilah Shufiyah (kaum sufi) belum dikenal pada masa tiga generasi terbaik Umat ini (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut Tabi’in). Dalam Majmu’ al-Fatawa (11/16), Shufi diambil dari kata shuf (wol) sebab pengikut aliran ini menggunakan pakaian yang terbuat dari wol sebagai wujud kezuhudan mereka terhadap dunia.

Aliran Tasawuf atau shufi muncul pertama kali di Bashrah dan orang yang pertama kali mendirikannya adalah Duwairah as-Shufiyah. Di Bashrah ia terlalu berlebihan dalam hal zuhud, ibadah, takut dan selainnya. Diriwayatkan dari Abu Asy-Syaikh al-Ashfahani dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirrin rohimahulloh, ia mendengar ada suatu kaum yang lebih mengutamakan pakaian wol (shuf), maka ia (Muhammad bin Sirrin) berkata, “Ada satu kaum yang lebih mengutamakan pakaian dari wol (shuf) dan mereka mengatakan bahwa mereka meniru al-Masih Putra Maryam. Padahal petunjuk Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam lebih kita sukai. Dulu Nabi memakai pakaian yang terbuat dari katon dan selainnya…,”(Majmu’ al-Fatawa (11/7) secara ringkas) Lanjut Baca »

Sebagai suatu umat yang besar, pada dasarnya semua kaum Muslimin adalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Adapun perbedaan di antara empat mazhab Ahlussunnah sebenarnya hanya perbedaan pendapat tentang keabsahan beberapa hadis dan perbedaan pemahaman dari nash-nash al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi Sholallohu ‘alaihi Wasslam.

Dalam menghadapi perbedaan-perbedaan di antara kita, kewajiban kita sesama Ahlussunnah harus saling menasihati, merahmati dan mendakwahkan satu sama lain pendapat yang dianggapnya benar tanpa harus cela-mencela, serang-menyerang, saling mencap sesat, apalagi saling mengkafirkan. Semua sikap-sikap negatif itu harus ditinggalkan dan masing-masing kelompok harus menyadarkan para pengikutnya yang terkadang dihinggapi kejahilan sampai-sampai menganggap musuh sesama Ahlussunnah.

Berbeda sekali halnya dengan sikap kita terhadap Syi’ah. Syi’ah bukanlah Ahlussunnah dan agama Syi’ah bukanlah agama Islam. Syi’ah harus terus diwaspadai. Ahlussunnah harus menyatukan barisan dan melupakan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka dalam menghadapi ancaman Syi’ah, karena Syi’ah merupakan ancaman terbesar atas umat Islam pada zaman ini. Syi’ah telah menyelisihi Islam di seluruh ruas utamanya dan penganut Syi’ah telah menyingsingkan lengan untuk men-Syi’ah-kan umat ini serta memukul genderang perang terhadap umat Islam di mana-mana. Lanjut Baca »