Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2015

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Salah satu bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah memberikan segala fasilitas di dunia ini untuk dinikmati dan dikelola oleh manusia. Segala yang diciptakan oleh Allah Ta’ala hukum asalnya bisa diambil manfaatnya oleh manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah, yang menciptakan segala yang ada di muka bumi untuk kalian semuanya.” (QS. al-Baqarah: 29)

Di dalamnya terkandung dalil bahwa hukum asal segala sesuatu yang diciptakan adalah boleh, hingga ada dalil yang memindah hukum asal ini. Tidak ada perbedaan antara hewan dan lainnya dari perkara yang dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan mudharat. Kata “Segala” dalam firman Allah di atas suatu pengukuhan yang lebih kuat atas hal ini. (lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Mengetahui halal dan haram bagi seorang muslim merupakan suatu keharusan agar tidak terjatuh pada harta haram. Daging yang tumbuh dari harta haram akan mendapatkan bagian siksa di Neraka dan berpengaruh terhadap tingkat kecenderungan untuk melakukan kemaksiatan serta merasa enggan atau merasa malas untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Islam sebagai ajaran yang sempurna tidak luput dari penjelasan halal dan haram, terlebih masalah muamalah menyangkut kebutuhan hidup manusia. Adanya hukum halal dan haram dalam muamalah adalah bentuk ujian hidup karena manusia diciptakan untuk ibadah dan ubudiyah seseorang dibuktikan dengan ketundukan kepada aturan Rabb-Nya.

Berkaitan dengan wajibnya mnegetahui halal haram berawal dari perintah Allah Ta’ala untuk makan dari yang halal lagi baik. Harta yang halal adalah halal secara dzat, cara memperolehnya dan halal pula cara mengalokasikannya. (lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Ruang lingkup pembahasan fikih muamalah yaitu berkaitan dengan hubungan interaksi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Baik berkaitan dengan aspek moralitas atau akhlak pelaku muamalah maupun berkaitan dengan aspek materi atau bendanya. Tujuan dari pembahasan fikih muamalah adalah memberikan panduan status hukum seperti halal, haram, dan mubah dalam bermuamalah, baik aspek moral maupun aspek materi.

Secara terperinci ruang lingkup pembahasan fikih muamalah terbagi menjadi dua:

  1. Ruang lingkup muamalah dilihat dari aspek moralitas, akhlak atau etika (adabiyah), misalnya ada unsur ridha, tidak ada pemaksaaan, intimidasi, tidak ada penipuan seperti menyembunyikan cacat barang, atau tidak adanya unsur gharar dan serba ketidak jelasan.
  2. Ruang lingkup muamalah dilihat dari sisi materi muamalahnya yaitu menjelaskan aturan-aturan Islam terkait dengan tata cara dalam memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan sebuah materi seperti jual beli, kerjasama, perkongsian, gadai, utang piutang, sewa menyewa, pinjam meminjam, upah, wakalah, kafalah dan lain-lain. Termasuk beberapa masa’il kotemporer seperti bunga bank, asuransi, kartu kredit, hak cipta karya tulis, kuis berhadiah, belanja online, dan lain-lain.

(lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Sumber hukum utama dalam fikih muamalah adalah al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ dan qiyas. Sumber hukum lain seperti, al-Maslahah al-Mursalah, Qaul Sahabi, dan lain-lain adalah ranah pembahasan ushul al-Fiqh. Pada sub bab pembahasan ini hanya memberikan gambaran tentang landasan hukum utama dalam fiqih muamalah. Tetapi, yang perlu dijadikan catatan adalah bahwa seluruh landasan dalil hukum mengacu pada wahyu Allah Ta’ala yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Bahkan ijma’ pun adalah hasil pemahaman final para mujtahid ummat Islam suatu zaman terhadap seluruh nash-nash yang ada akan suatu hukum tertentu.

Banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits nabawi yang menjelaskan dan menekankan akan kedudukan kedua kitab al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai sumber hukum bagi manusia. (lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Fikih muamalah terdiri dari kata Fikih dan muamalah. Kata Fikih berasal dari bahasa arab (الفقه) yang berarti mengetahui sesuatu dan memahaminya sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala dalam al-Qur’an surat Thaha ayat 27-28:

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Dan lepaskanlah kekakuan lidahku supaya mereka memahami perkataanku.” (QS. Thaha: 27-28)

Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka dia akan dipahamkan dalam masalah agama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Manusia saling membutuhkan satu sama lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Keberadaan aturan dalam mengatur tata cara manusia memenuhi kebutuhan merupakan satu keharusan. Aturan tersebut dibangun di atas asas keadilan, saling ridha, saling memberi manfaat dan tidak ada pihak yang didzalimi dan dirugikan. Islam adalah satu-satunya agama yang komprehensif membahas segala yang dibutuhkan manusia, termasuk petunjuk bagi manusia dalam mengatur tata cara memenuhi kebutuhan hidupnya atau sering disebut dengan istilah muamalah.

Segala bentuk muamalah yang hakikatnya merugikan manusia diharamkan dalam Islam dan segala bentuk muamalah yang memberikan manfaat dihalalkan dalam Islam. Harta yang diperoleh dengan cara yang diharamkan dalam Islam akan memberi dampak negatif bagi pribadi, keluarga dan lingkungan masyarakat. Begitu pula harta yang halal lagi baik akan memberi dampak positif bagi pribadi, keluarga dan lingkungan masyarakat. (lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Penulis: Syekh Abdullah ibn Abdurrahman al-Bassam

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Hurairah, dan Aisyah radhiallahu anhum, mereka berkata bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Celakalah para pemilik tumit-tumit yang tidak terkena air wudhu dari api neraka.” (HR. Bukhari No.60, 90, dan 163 serta Muslim No.241)

Kosakata Asing

الويل: Artinya siksa dan celaka. Al-Wail adalah mashdar yang tidak memiliki kata kerja, dari lafal tersebut.

الأعقاب: bentuk jamak dari عقب  Aqoba, yaitu bagian belakang kaki, maksudnya adalah si pemilik tumit. (ال) dalam kata (الأعقاب) menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui, yaitu tumit-tumit yang tidak terkena air wudhu, sehingga ancaman bisa dipahami dengan baik. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »