Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2017

Harta yang halal adalah rezeki yang akan diberkahi Allah S.W.T. dan bermanfaat dunia akhirat. Dampak positif dari harta halal bisa dirasakan oleh setiap individu, keluarga, dan bahkan masyarakat. Berikut beberapa dampak dari harta halal yang dikonsumsi oleh seseorang:

Pertama: Harta halal mendorong beramal shalih

Allah S.W.T. berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para Rosul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mu’minun [23]: 51)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah S.W.T. pada memerintahkan para rasul agar makan makanan halal dan beramal shaleh. Disandingkannya dua perintah ini mengisyaratkan bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh dan sungguh mereka benar-benar telah mentaati kedua perintah ini. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Islam sebagai ajaran yang sempurna menjelaskan batasan halal dan haram dalam mencari harta. Mengetahui halal dan haram bagi seorang muslim merupakan suatu keharusan agar tidak terjatuh pada harta haram. Adanya hukum halal dan haram dalam dalam mencari harta adalah bentuk ujian bagi manusia. Siapakah di antara mereka yang tunduk lagi patuh pada aturan Rabb-Nya dan yang tidak.

Kewajiban mengetahui halal haram dalam mencari harta dikarenakan Allah S.W.T. memerintahkan untuk makan dari yang halal dan mengharamkan cara-cara yang batil dalam memperoleh harta. Allah S.W.T. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. al-Baqoroh [2]: 172) (lebih…)

Read Full Post »

Banyak ibadah-ibadah wajib yang berkaitan dengan harta. Seperti zakat, haji, qurban, nafkah anak istri, dan lain-lain. Seseorang yang mampu memaksimalkan hartanya untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. lebih baik dibanding seseorang yang tidak memiliki harta, karena dia tidak mampu beramal shalih yang berkaitan dengan harta.

Di antara pahala terbesar yang telah Allah S.W.T. sediakan untuk orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah seperti infak, sedekah dan senantiasa menunaikan zakat adalah disediakannya pintu khusus masuk surga, yaitu pintu sedekah. Rasulallah S.A.W. bersabda:

وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

“Barangsiapa termasuk orang yang senantiasa bersedekah maka dia akan dipanggil masuk Surga melalui pintu sedekah.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah) (lebih…)

Read Full Post »

Pemilik harta sebenarnya ialah Allah S.W.T.. Kepemilikan harta oleh manusia sebatas mengelola, dan memanfaatkan dengan menunaikan hak-haknya. Allah S.W.T. berfirman:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An’am [6] 141)

Berkaitan dengan ayat ini para ulama ahli tafsir berbeda pendapat terkait maksud Hak dalam ayat tersebut. Apakah pemberian biasa yang dianjurkan atau zakat. Sebagian ulama berpendapat: Hak dalam ayat ini maksudnya adalah zakat yang diwajibkan. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa maksudnya bukan zakat, melainkan hendaknya memberi kepada orang yang hadir dari kalangan orang miskin tatkala panen satu genggam atau satu ikatan. Sebagian ulama yang berpendapat ini mengatakan hukumya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan anjuran. Sebagian ulama lain berpendapat: Ini adalah hak wajib selain zakat, tidak ditentukan dalam jumlah kadar tertentu. Sebagian ulama mengatakan: Bahwa ayat ini sudah dinasakh dengan ayat zakat, karena ayat ini adalah makkiyah dan ayat-ayat zakat diturunkan di Madinah. (lebih…)

Read Full Post »

Harta merupakan ujian bagi manusia. Ia bisa memuliakan dan bisa menghinakan. Hal ini tergantung bagaimana pemilik harta menggunakannya. Apakah harta tersebut digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. atau sebaliknya justru membuatnya lalai. Harta yang dibelanjakan di jalan kebaikan akan mengantarkan seseorang meraih kemuliaan dan harta yang melalaikan seseorang dari Allah S.W.T. hanya membuat pemiliknya menjadi orang-orang yang hina. Inilah makna harta sebagai ujian bagi manusia.. Allah S.W.T. berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Ketahuilah bahwa harta dan anak-anak kalian itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. al-Anfal [8]: 28)

رَوَي التِّرْمِذِيُّ عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

Al-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ka’ab ibn Iyadh bahwa Nabi S.A.W. bersabda, “Sesungguhnya masing-masing umat itu memiliki fitnah dan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. al-Tirmidzi) (lebih…)

Read Full Post »

Allah S.W.T. adalah pemilik mutlak alam semesta ini. Manusia diberi amanah mengurusi dan mengelola harta yang diberikan kepadanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti kebutuhan makan, minum, pakaian, kendaraan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya. Allah S.W.T. membolehkan manusia untuk menikmati dan menggunakan harta tersebut sesuai dengan batasan-batasan yang Allah S.W.T. tetapkan.

Allah S.W.T. berfirman:

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf [7]: 31) (lebih…)

Read Full Post »

Manusia diciptakan oleh Allah S.W.T. dengan memiliki kecenderungan mencintai harta benda. Kebutuhan manusia terhadap harta memang tidak dapat dipisahkan. Harta dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, memaksimalkan pelaksanaan ‘ubudiyah, dan salah satu sarana meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. Pada hakekatnya, harta yang Allah S.W.T. berikan kepada manusia bertujuan memaksimalkan tujuan hidup manusia yaitu mewujudkan peribadatan kepada Allah S.W.T..

Harta bagaikan pisau bermata dua. Harta dapat dipakai untuk membangun, memperbaiki, memperindah, membuat semarak, menggemberikan, mengakrabkan, dan banyak hal sifat positif. Sebaliknya, harta juga bisa merusak, merobohkan, menyengsarakan, memutuskan hubungan kekerabatan, pertempuran, pembunuhan, fitnah dan keburukan lainnya. Oleh karenanya, Islam mengatur manusia dalam mencari dan mengelola harta agar harta yang diraih dapat mengantarkan pemiliknya meraih kebahagiaan hakiki. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »