Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2017

Umat Rasulallah S.A.W. yang terbaik dalam semua amal shaleh, termasuk dalam hal menginfakkan hartanya fi sabilillah adalah sahabat Abu Bakar as-Shidiq r.a.. Beliau berhak masuk Surga melalui pintu mana saja yang beliau inginkan. Di antaranya melalui pintu sedekah sebagai pintu khusus untuk hamba yang gemar berinfak. Beliau memang terbaik dalam berinfak. Hal ini ditegaskan oleh Rasulallah S.A.W. sebagaimana dalam sabda-nya:

إِنَّ مِنْ أَمَنِّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبَا بَكْرٍ

“Sesungguhnya di antara orang yang paling dermawan kepadaku dalam persahabatannya dan dalam menginfakkan hartanya adalah Abu Bakar.”

Imam Abu Dawud dan Imam at-Tirmidzi meriwayatkan kisah yang sangat menakjubkan tentang sahabat Nabi yang berlomba-lomba dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah S.W.T.. Umar bin Khothob r.a. bercerita, “Rasulallah S.A.W. memerintahkan kami untuk bersedekah. Saat itu aku sangat ingin bersedekah dengan harta yang aku miliki. Aku berkata dalam hati, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar, maka aku akan datang kepada Rasulallah dengan separoh hartaku.’ Rasulallah bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Aku menjawab, ‘Sama dengan apa yang aku berikan ya Rasulallah.’ Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya, maka Rasulallah  bertanya, “Ya Abu Bakar apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, ‘Aku tinggalkan bagi mereka Alloh dan Rosulnya.’ Maka Umar pun berkata:”Aku tidak pernah mampu mengalahkan engkau selama-lamanya.” (lebih…)

Read Full Post »

Tertipunya seseorang pada harta dunia dengan lebih mementingkan kesenangan dunia dibanding kebahagiaan akhirat disebabkan lemahnya iman, kurangnya ilmu, cinta dunia, dan teman atau lingkungan yang melalaikan. Seorang muslim yang mengimani kehidupan akhirat dan mengimani adanya Surga serta Neraka akan menyadari bahwa kesenangan hidup di dunia bersifat fana. Karenanya ia akan menjadikan kehidupan dunia sebagai wasilah meraih kebahagiaan di Surga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ. قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ اقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits dari Abu hurairah bahwa Rasulallah S.A.W. bersabda, “Aku sediakan bagi hamba-hambaKu yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak tergbetik oleh hati manusia.” Abu Hurairah r.a. berkata, “Jika mau bacalah “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan’.” (HR. Al-Bukhari) (lebih…)

Read Full Post »

Seharusnya orang yang diberi kelebihan harta bisa beramal dengan amalan yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang diberi harta. Ia bisa menggunakan harta tersebut dengan beragam amal shaleh yang mengantarkannya dapat meraih balasan terbaik di akhirat. Seperti zakat, haji, umrah, memberi makan fakir miskin, berinfak untuk beragam kegiatan-kegiatan dakwah Islam, dan lain-lain. Allah S.W.T. tidak meminta seluruh harta yang dimiliki seseorang. Dia hanya meminta sebagian kecil saja dari harta tersebut untuk digunakan pada jalan-jalan kebaikan yang diridhai-Nya.  Allah S.W.T. berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash [28]: 77) (lebih…)

Read Full Post »

Tamak terhadap harta dunia merupakan penyakit hati yang sangat membahayakan kehidupan manusia. Tamak adalah sikap rakus terhadap harta dunia tanpa melihat halal dan haramnya. Tamak bisa menyebabkan timbulnya sifat dengki, permusuhan, perbuatan keji, dusta, curang, dan bisa menjauhkan pelakunya dari ketaatan, dan lain-lain.

Imam Ibnu al-Jauzi berkata, “Jika sifat rakus dibiarkan lapas kendali maka ia akan membuat seseorang dikuasai nafsu untuk sepuas-puasnya. Sifat ini menuntut terpenuhinya banyak hal yang menjerumuskan seseorang ke liang kehancuran.”

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Seorang hamba akan merasa merdeka selagi ia qana’ah dan orang merdeka akan menjadi budak selagi ia tamak.” Beliau juga berkata, “Ketamakan membelenggu leher dan memborgol kaki. Jika belenggu hilang maka borgolpun akan hilang dari kaki.” (lebih…)

Read Full Post »