Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Syarh Hadits Ahkam’ Category

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Penulis: Syekh Abdullah ibn Abdurrahman al-Bassam

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, Abu Hurairah, dan Aisyah radhiallahu anhum, mereka berkata bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Celakalah para pemilik tumit-tumit yang tidak terkena air wudhu dari api neraka.” (HR. Bukhari No.60, 90, dan 163 serta Muslim No.241)

Kosakata Asing

الويل: Artinya siksa dan celaka. Al-Wail adalah mashdar yang tidak memiliki kata kerja, dari lafal tersebut.

الأعقاب: bentuk jamak dari عقب  Aqoba, yaitu bagian belakang kaki, maksudnya adalah si pemilik tumit. (ال) dalam kata (الأعقاب) menunjukkan sesuatu yang sudah diketahui, yaitu tumit-tumit yang tidak terkena air wudhu, sehingga ancaman bisa dipahami dengan baik. (lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Penulis: Syekh Abdullah ibn Abdurrahman al-Bassam

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulallah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak menerima shalat seseorang di antara kalian ketika berhadats, hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari No.135 dan No.6954)

Kosakata Asing

Allah tidak menerima: Kalimat nafi seperti ini lebih fasih dari kalimat larangan. Sebab, kalimat tersebut juga mengandung larangan, di samping meningkatkan penafian hakikat sesuatu.

Berhadats: Yaitu mengeluarkan hadats. Maksudnya, sesuatu yang keluar dari dubur atau kemaluan, atau hal-hal lain yang membatalkan wudhu. Kata ini berakar dari kata hadats, artinya mengganggu.

Hadats adalah deskripsi hukum yang diperkirakan terjadi pada anggota tubuh. Keberadaannya menghalangi keabsahan ibadah yang mensyaratkan thaharah. (lebih…)

Read Full Post »

MIMBAR HADITS

MIMBAR HADITS

Penulis: Syekh Abdullah ibn Abdurrahman al-Bassam

Dari Amirul Mukminin Abu Hafs Umar bin Khatthab radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (bernilai sebagaimana) yang ia niatkan.” (lebih…)

Read Full Post »