Feeds:
Pos
Komentar

Pemilik harta sebenarnya ialah Allah S.W.T.. Kepemilikan harta oleh manusia sebatas mengelola, dan memanfaatkan dengan menunaikan hak-haknya. Allah S.W.T. berfirman:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-An’am [6] 141)

Berkaitan dengan ayat ini para ulama ahli tafsir berbeda pendapat terkait maksud Hak dalam ayat tersebut. Apakah pemberian biasa yang dianjurkan atau zakat. Sebagian ulama berpendapat: Hak dalam ayat ini maksudnya adalah zakat yang diwajibkan. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa maksudnya bukan zakat, melainkan hendaknya memberi kepada orang yang hadir dari kalangan orang miskin tatkala panen satu genggam atau satu ikatan. Sebagian ulama yang berpendapat ini mengatakan hukumya wajib dan sebagiannya lagi mengatakan anjuran. Sebagian ulama lain berpendapat: Ini adalah hak wajib selain zakat, tidak ditentukan dalam jumlah kadar tertentu. Sebagian ulama mengatakan: Bahwa ayat ini sudah dinasakh dengan ayat zakat, karena ayat ini adalah makkiyah dan ayat-ayat zakat diturunkan di Madinah. Lanjut Baca »

Iklan

Harta merupakan ujian bagi manusia. Ia bisa memuliakan dan bisa menghinakan. Hal ini tergantung bagaimana pemilik harta menggunakannya. Apakah harta tersebut digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah S.W.T. atau sebaliknya justru membuatnya lalai. Harta yang dibelanjakan di jalan kebaikan akan mengantarkan seseorang meraih kemuliaan dan harta yang melalaikan seseorang dari Allah S.W.T. hanya membuat pemiliknya menjadi orang-orang yang hina. Inilah makna harta sebagai ujian bagi manusia.. Allah S.W.T. berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Ketahuilah bahwa harta dan anak-anak kalian itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. al-Anfal [8]: 28)

رَوَي التِّرْمِذِيُّ عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

Al-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ka’ab ibn Iyadh bahwa Nabi S.A.W. bersabda, “Sesungguhnya masing-masing umat itu memiliki fitnah dan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. al-Tirmidzi) Lanjut Baca »

Allah S.W.T. adalah pemilik mutlak alam semesta ini. Manusia diberi amanah mengurusi dan mengelola harta yang diberikan kepadanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti kebutuhan makan, minum, pakaian, kendaraan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lainnya. Allah S.W.T. membolehkan manusia untuk menikmati dan menggunakan harta tersebut sesuai dengan batasan-batasan yang Allah S.W.T. tetapkan.

Allah S.W.T. berfirman:

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf [7]: 31) Lanjut Baca »

Manusia diciptakan oleh Allah S.W.T. dengan memiliki kecenderungan mencintai harta benda. Kebutuhan manusia terhadap harta memang tidak dapat dipisahkan. Harta dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, memaksimalkan pelaksanaan ‘ubudiyah, dan salah satu sarana meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. Pada hakekatnya, harta yang Allah S.W.T. berikan kepada manusia bertujuan memaksimalkan tujuan hidup manusia yaitu mewujudkan peribadatan kepada Allah S.W.T..

Harta bagaikan pisau bermata dua. Harta dapat dipakai untuk membangun, memperbaiki, memperindah, membuat semarak, menggemberikan, mengakrabkan, dan banyak hal sifat positif. Sebaliknya, harta juga bisa merusak, merobohkan, menyengsarakan, memutuskan hubungan kekerabatan, pertempuran, pembunuhan, fitnah dan keburukan lainnya. Oleh karenanya, Islam mengatur manusia dalam mencari dan mengelola harta agar harta yang diraih dapat mengantarkan pemiliknya meraih kebahagiaan hakiki. Lanjut Baca »

Banyak sekali peristiwa sejarah yang dilupakan kaum muslimin sendiri di bulan Sya’ban. Semoga dengan mengingat peristiwa sejarah ini mampu membangkitkan semangat kita dalam beribadah kepada Allah. Di antara peristiwa besar yang pernah terjadi di bulan Sya’ban di antaranya:

1. Sebagian ulama tarikh mennyebutkan bahwa pada Sya’ban tahun ke-2 hijriah, Allah Kabulkan keinginan Nabi tentang perpindahan kiblat dari Masjid al Aqsa di Palestina menuju Masjid al Haram di Makah. Inilah syariat pertama yang di naskh/diamandemen di dalam Islam oleh Allah subhanahu wata’ala.

2. Pada Sya’ban tahun ke-2 H disyariatkan adzan di dalam Islam dan Bilal bin Robbah resmi diangkat menjadi muadzin Rosulullah di Madinah. Jadi, hampir 14 abad adzan berkumandang di muka bumi dan tidak akan terhenti hingga hari kiamat insyaallah.

3. Pada Sya’ban tahun ke-2 H, Allah turunkan syariat zakat dan puasa Romadhan. Akan tetapi di bulan Ramadhan tahun ke-2 H kaum muslimin menghadapi perang badar sehingga Nabi memerintahkan para sahabatnnya untuk berbuka puasa. Lanjut Baca »

Ditulis oleh: Ustadz Dr. Adian Husaini, M.A.

Kitab al-Ahkam al-Sulthaniyyah ditulis Imam Mawardi (w. 450 H/sekitar 1072 M), yang nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi Asy-Syafii. Kitab ini menunjukkan ketinggian peradaban Islam yang dibangun diatas dasar ilmu-ilmu Islam (ulumuddin). Di zaman ketika Eropa masih dalam zaman kegelapan (sekitar 500-1500 M), kaum Muslim telah menghasilkan karya-karya yang gemilang dalam berbagai bidang keilmuan, termasuk dalam ilmu politik, dengan terbitnya buku karya Imam al-Mawardi ini.

Dan ini tidaklah mengherankan, sebab, Islam bukan hanya wujud dalam bentuk ajaran-ajaran spiritual keagamaan, tetapi Islam juga wujud dalam bentuk peradaban yang mencakup berbagai sistem kehidupan, baik sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Islam juga satu-satunya agama yang memberikan keteladanan yang tinggi dalam bidang politik dan pemerintahan. Islam bukan hanya membangun aspek duniawi dalam bentuk peradaban materi, tetapi tujuan Islam yang juga diamanahkan kepada para penguasanya adalah membangun manusia-manusia Muslim yang unggul. Lanjut Baca »

Saat ini, umat Islam dihadapkan pada virus-virus yang mengancam kekebalan dan kemurnian akidah mereka. Virus-virus ter-sebut tidak hanya menyerang kalangan ma-syarakat awam, tetapi juga telah menimpa kalangan terpelajar di kampus-kampus baik umum maupun Islam.

Di antara sekian banyak virus yang sudah menggerogoti tubuh sebagian kaum muslimin adalah virus Liberalisme. Jika keberadaan virus ini dibiarkan, maka tentu akan membahayakan umat Islam. Karena virus ini dapat mengancam seorang Muslim keluar dari keislamannya, dan cukuplah lepasnya keislaman dari seorang Muslim sebagai bahaya besar yang ditimbulkan oleh virus Liberalisme.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui dan memahami dengan baik tentang hakikat virus Liberalisme. Sehingga kita dan saudara-saudara kita dapat terhindar dari virus yang berbahaya ini. Sudah saatnya, semua kita ikut andil dalam membendung virus Liberalisme ini.  Lanjut Baca »